Di tepi buku tua
Lelaki memandang dan mengajariku mendirikan sebuah rumah
Wajahku memerah
Tubuhku kaku
Aku tak tidur semalaman
Tak berani pula aku memandang matanya yang perak
Dengan berani kukumpulkan kembang dari seluruh musim
Dan kupersembahkan kepadanya
Seperti awalnya
Aku gemetar dan berbisik
Hanya ini yang kupunya
Lelaki tersenyum dan menyuruhku agar segera membuat tiang, pintu dan jendela
Kemudian aku bertanya, dimana ruangannya
Dihatimu, jawabnya
Lantas lelaki menutup seluruh rambutku
Tersenyumlah agar angin tak datang mengusik, pintanya
Lelaki di tepi buku tua
Meletakkan aku sebagai perempuan di pangkuannya
Lintang Sugianto
4 : 38 - Bekasi, 25 Juni 2006
Bahasa yang dipergunakan tanpa mempertaruhkan diri ialah bahasa yang merupakan langkah termudah untuk diduga. Sebuah bahasa otomatis bukan saja mecerminkan kebekuan berpikir dan mati, ia juga menyebabkan kebekuan itu. Kita beruntung memiliki sebuah sastra yang sanggup mencairkan kebekuan itu.
Monday, July 17, 2006
Tuan Malaikat, ini Puri.....
Hari ini malaikat pencabut nyawa benar-benar sibuk
Seluruh catatan dan daftar telah ia hafal dengan sempurna
Sabitnya menebas-nebas dan ia tampak sempoyongan
Dalam tiga puluh menit semua tugas harus tuntas, ini perintah!
Dengarkan mak…
Mak, seharusnya aku segera melupakan saja tentang mainan masa kecilku yang kau buang diparit gelap itu. Agar mudah aku menata mimpiku, agar angin yang menakutkan itu tak selalu singgah dikisi jendela menjelang tidurku. Tapi itu tak mungkin, ruangan ini tetap menjadi milikmu, sejak kau pasang pajangan dinding berwarna merah yang begitu menusuk mataku
Mana kuncinya, mak? Aku ingin keluar mencium embun didaun-daun. Disini gelap sekali, tak pula kau sediakan damar untuk sekedar melihat wajahku yang tentu telah menua sejak kau lahirkan. Aku meraba dinding ini, mak! Dan mana jendelanya? Kutempelkan saja telingaku dan aku tertawa girang ternyata aku bisa mendengar bahwa dunia penuh suara dan nyanyian-nyanyian, mengapa tak seperti yang engkau ceritakan?
Mak, disini ada seekor laba-laba yang mengajariku memintal waktu
Hingga aku lebih cerdas memastikan letak matahari yang tak pernah kulihat sinarnya. Kemudian kunang-kunang itu amat bersahaja mengumpulkan cahaya dan begitu sabar memanduku belajar menentukan arah.
Tetapi aku harus hidup, Mak
Aku butuh mataku
Aku butuh jiwa
Aku butuh, Mak
Lintang Sugianto
5 : 25 Bekasi, 25 Juni 2006
Ia mendengar amat takzim perintah itu
Maka ia tak berbelas
Maka ia menuntaskan
Maka ia menyabit segala
Dan sebuah kota telah menjadi sayu
Lempengan bumi dasar laut menggeliat
Ombak yang terlalu lama tak memuliki bahasa itupun bersatu dengan lumpur, memuncrat, mencoba dengan caranya untuk mengeluarkan segenap isi hatinya
Ia sedang berbicara
Ia sedang meraung
Ujung pulau negeri itu telah tersapu oleh gerlombang lautnya sendiri.
Kemegahan kota itupun menjadi masa lalu yang jauh
Hari ini pula seorang gadis kecil bermata merah dadu dengan tangan kanannya yang nyaris buntung, ia berusaha merangkak mendekati seorang janda setengah baya yang tubuhnya telah rusak.
Keduanya akibat tertindih terumbu karang yang dimuntahkan samudera
"Umi! Umi…, ini Putri! Mengapa kau tak bergerak?"
Belum genap ia menyapu air mata, ia menangkap bayangan berkelebat yang menyabit cepat di atas ubun-ubun perempuan itu
"Tuan…tuan, kau siapa?"
Dengan suara tetapi bukan suara, bayangan itupun menjawab,
"Aku malaikat, kau melihat rahasiaku?"
"Ya, Tuan! Tuan Malalaikat, ini Putri! Mengapa Umi tak bergerak?"
Malaikat tak menyahut, rupanya ia benar-benar sendang sibuk menyabit
Ribuan manusia menjerit
Mayat-mayat bergelimpangan
Ombak kian berteriak meninggi sepuluh meter
Segenap paru-paru tersedak lumpur
Segenap bangunan roboh
Segenapnya hanyut dan rata
Kota ini tak lagi tahu siapa si kaya dan siapakah yang tak kaya
Segenapnya menjadi serupa
Dan segenapnya berwajah sama
" Tuan, Tuan Malaikat…, tunggu…!"
Tetapi malaikat tetap sibuk, ia memang sedang memperhitungkan waktu
Ia tak ingin mendengar
Ia tak ingin lelap
Ia tak ingin lupa
Hingga ternak, hingga serangga, hingga rumput, dan pohon sekalipun, semuanya sesuai daftar, semuanya tak terlewatkan, dan semuanya dengan dingin ia tuntaskan
"Tuan Malaikat, tunggu! Mengapa Umiku tak bergerak?"
"Aku sedang melangsungkan tugas, manusia kecil"
"Berhentilah sejenak, Tuan! Lihatlah Umiku"
Ia menatap, kemudian suaranya yang bukan suara, terdengar berupa butiran-butiran lembut yang jatuh tetapi begitu bening
"Umimu pun bertugas, Putri…! Gempa itu tugas. Ombak itu tugas.
Gunung itu tugas dan lumpurpun bertugas"
"Kota ini?"
Malaikat pencabut nyawa itu, tiba-tiba tak bergeming
Layaknya sedang menimbang ia lama terdiam
Kedua matanya yang perak, tajam menatap lengan Putri yang terus mengucurkan darah
"Tuan, kota ini apa bertugas?"
"Manusia kecil, banyak tugas yang menjadi rahasia, sebuah rahasia yang kita tak boleh mengetahuinya, namun kita harus melaksanakannya. Sebentar lagi segera datang virus dan bakteri yang bertugas, lalat-lalat yang bertugas, dan belatung pun bertugas"
"Kumohon jawablah tentang kota ini, Tuan Malaikat?"
"Baiklah, manusia kecil, kota inipun bertugas"
"Kota ini Aceh, tuan. Mengapa selalu Aceh yang bertugas?"
"Dengar manusia kecil, tak banyak manusia berani bertugas untuk memilih Allah atau hidup di dunia. Tak banyak pula manusia memiliki tugas mencintai hasratnya sendiri untuk ke rumah Allah di atas cintanya kepada dunia. Dan kotamu ini memang sepetak taman bagimu, tetapi Aceh telah dibantu memilih bertugas"
"Tugas lagi?"
"Ya, tugas untuk membentuk barisan!"
"Barisan? Barisan apa, Tuan?"
Tetapi Malaikat segera membaca daftar dan dengan amat gesit ia menyabit kembali. Yang terjadi ialah jalan-jalan trotoar itu, masjid-masjid itu, lapangan itu, kota itu telah penuh anak-anak, penuh orang tua, penuh lelaki, penuh perempuan, semua penuh mayat
"Cukup! Cukup Tuan! Kumohon hentikan, hentikan, tuan!"
"Hey, waktuku hampir habis, sedangkan barusan belum terbentuk"
"Katakan padaku, barisan apa?"
"Barisan menuju rumah Allah, manusia kecil"
"Rumah Allah?"
"Yaa…"
"Apakah Umiku juga dalam barisan itu?"
"Tentu, manusia kecil"
Putri menelan ludah, ia tak lagi meringis kesakitan, ia justru menatap kembali seorang perempuan setengah baya yang terbujur kaku dan diam itu. Tetapi kedua matanya telah berubah serupa purnama yang merajai bulan.
"Umi, Umi ini Putri! Kata Tuan Malaikat, Umi akan berada dalam barisan itu! Kau terpilih Umi. Kau terpilih!"
Kemudian gadis kecil itu berteriak lantang.
"Tuan Malaikat! Tuan Malaikat, ini Putri! Aku keturunan
Cut Nyak! Akulah Aceh itu! Lihatlah dalam daftarmu, sabit aku...sabit aku…"
Hari ini, tepat tiga puluh menit untuk pertama kalinya malaikat itu tersenyum melihat sebuah nama pada daftar terakhir.
Ia menatap langit-langit, seorang anak kecil sedang berderap-derap memimpin barisan yang amat panjang.
Lintang Sugianto
Seluruh catatan dan daftar telah ia hafal dengan sempurna
Sabitnya menebas-nebas dan ia tampak sempoyongan
Dalam tiga puluh menit semua tugas harus tuntas, ini perintah!
Dengarkan mak…
Mak, seharusnya aku segera melupakan saja tentang mainan masa kecilku yang kau buang diparit gelap itu. Agar mudah aku menata mimpiku, agar angin yang menakutkan itu tak selalu singgah dikisi jendela menjelang tidurku. Tapi itu tak mungkin, ruangan ini tetap menjadi milikmu, sejak kau pasang pajangan dinding berwarna merah yang begitu menusuk mataku
Mana kuncinya, mak? Aku ingin keluar mencium embun didaun-daun. Disini gelap sekali, tak pula kau sediakan damar untuk sekedar melihat wajahku yang tentu telah menua sejak kau lahirkan. Aku meraba dinding ini, mak! Dan mana jendelanya? Kutempelkan saja telingaku dan aku tertawa girang ternyata aku bisa mendengar bahwa dunia penuh suara dan nyanyian-nyanyian, mengapa tak seperti yang engkau ceritakan?
Mak, disini ada seekor laba-laba yang mengajariku memintal waktu
Hingga aku lebih cerdas memastikan letak matahari yang tak pernah kulihat sinarnya. Kemudian kunang-kunang itu amat bersahaja mengumpulkan cahaya dan begitu sabar memanduku belajar menentukan arah.
Tetapi aku harus hidup, Mak
Aku butuh mataku
Aku butuh jiwa
Aku butuh, Mak
Lintang Sugianto
5 : 25 Bekasi, 25 Juni 2006
Ia mendengar amat takzim perintah itu
Maka ia tak berbelas
Maka ia menuntaskan
Maka ia menyabit segala
Dan sebuah kota telah menjadi sayu
Lempengan bumi dasar laut menggeliat
Ombak yang terlalu lama tak memuliki bahasa itupun bersatu dengan lumpur, memuncrat, mencoba dengan caranya untuk mengeluarkan segenap isi hatinya
Ia sedang berbicara
Ia sedang meraung
Ujung pulau negeri itu telah tersapu oleh gerlombang lautnya sendiri.
Kemegahan kota itupun menjadi masa lalu yang jauh
Hari ini pula seorang gadis kecil bermata merah dadu dengan tangan kanannya yang nyaris buntung, ia berusaha merangkak mendekati seorang janda setengah baya yang tubuhnya telah rusak.
Keduanya akibat tertindih terumbu karang yang dimuntahkan samudera
"Umi! Umi…, ini Putri! Mengapa kau tak bergerak?"
Belum genap ia menyapu air mata, ia menangkap bayangan berkelebat yang menyabit cepat di atas ubun-ubun perempuan itu
"Tuan…tuan, kau siapa?"
Dengan suara tetapi bukan suara, bayangan itupun menjawab,
"Aku malaikat, kau melihat rahasiaku?"
"Ya, Tuan! Tuan Malalaikat, ini Putri! Mengapa Umi tak bergerak?"
Malaikat tak menyahut, rupanya ia benar-benar sendang sibuk menyabit
Ribuan manusia menjerit
Mayat-mayat bergelimpangan
Ombak kian berteriak meninggi sepuluh meter
Segenap paru-paru tersedak lumpur
Segenap bangunan roboh
Segenapnya hanyut dan rata
Kota ini tak lagi tahu siapa si kaya dan siapakah yang tak kaya
Segenapnya menjadi serupa
Dan segenapnya berwajah sama
" Tuan, Tuan Malaikat…, tunggu…!"
Tetapi malaikat tetap sibuk, ia memang sedang memperhitungkan waktu
Ia tak ingin mendengar
Ia tak ingin lelap
Ia tak ingin lupa
Hingga ternak, hingga serangga, hingga rumput, dan pohon sekalipun, semuanya sesuai daftar, semuanya tak terlewatkan, dan semuanya dengan dingin ia tuntaskan
"Tuan Malaikat, tunggu! Mengapa Umiku tak bergerak?"
"Aku sedang melangsungkan tugas, manusia kecil"
"Berhentilah sejenak, Tuan! Lihatlah Umiku"
Ia menatap, kemudian suaranya yang bukan suara, terdengar berupa butiran-butiran lembut yang jatuh tetapi begitu bening
"Umimu pun bertugas, Putri…! Gempa itu tugas. Ombak itu tugas.
Gunung itu tugas dan lumpurpun bertugas"
"Kota ini?"
Malaikat pencabut nyawa itu, tiba-tiba tak bergeming
Layaknya sedang menimbang ia lama terdiam
Kedua matanya yang perak, tajam menatap lengan Putri yang terus mengucurkan darah
"Tuan, kota ini apa bertugas?"
"Manusia kecil, banyak tugas yang menjadi rahasia, sebuah rahasia yang kita tak boleh mengetahuinya, namun kita harus melaksanakannya. Sebentar lagi segera datang virus dan bakteri yang bertugas, lalat-lalat yang bertugas, dan belatung pun bertugas"
"Kumohon jawablah tentang kota ini, Tuan Malaikat?"
"Baiklah, manusia kecil, kota inipun bertugas"
"Kota ini Aceh, tuan. Mengapa selalu Aceh yang bertugas?"
"Dengar manusia kecil, tak banyak manusia berani bertugas untuk memilih Allah atau hidup di dunia. Tak banyak pula manusia memiliki tugas mencintai hasratnya sendiri untuk ke rumah Allah di atas cintanya kepada dunia. Dan kotamu ini memang sepetak taman bagimu, tetapi Aceh telah dibantu memilih bertugas"
"Tugas lagi?"
"Ya, tugas untuk membentuk barisan!"
"Barisan? Barisan apa, Tuan?"
Tetapi Malaikat segera membaca daftar dan dengan amat gesit ia menyabit kembali. Yang terjadi ialah jalan-jalan trotoar itu, masjid-masjid itu, lapangan itu, kota itu telah penuh anak-anak, penuh orang tua, penuh lelaki, penuh perempuan, semua penuh mayat
"Cukup! Cukup Tuan! Kumohon hentikan, hentikan, tuan!"
"Hey, waktuku hampir habis, sedangkan barusan belum terbentuk"
"Katakan padaku, barisan apa?"
"Barisan menuju rumah Allah, manusia kecil"
"Rumah Allah?"
"Yaa…"
"Apakah Umiku juga dalam barisan itu?"
"Tentu, manusia kecil"
Putri menelan ludah, ia tak lagi meringis kesakitan, ia justru menatap kembali seorang perempuan setengah baya yang terbujur kaku dan diam itu. Tetapi kedua matanya telah berubah serupa purnama yang merajai bulan.
"Umi, Umi ini Putri! Kata Tuan Malaikat, Umi akan berada dalam barisan itu! Kau terpilih Umi. Kau terpilih!"
Kemudian gadis kecil itu berteriak lantang.
"Tuan Malaikat! Tuan Malaikat, ini Putri! Aku keturunan
Cut Nyak! Akulah Aceh itu! Lihatlah dalam daftarmu, sabit aku...sabit aku…"
Hari ini, tepat tiga puluh menit untuk pertama kalinya malaikat itu tersenyum melihat sebuah nama pada daftar terakhir.
Ia menatap langit-langit, seorang anak kecil sedang berderap-derap memimpin barisan yang amat panjang.
Lintang Sugianto
Ia, Sulastri
Tak satupun mampu bersembunyi di pagi yang kelabu itu. Seorang ibu harus terjepit selama tiga hari tertindih reruntuhan dinding rumahnya, saat gempa G. Merapi. Ia tinggal di dusun yang jauh di kawasan Imogiri-Jogja, yang tak lagi memiliki siapapun. Seorang anak perempuan yang didalam pelukannya pun meninggal. Ia, sulastri.
Ainadilah
Ainadilah…Disini embun dapat bercerita tentang perbincangan atap-atap rumah dan matahari esok pagi.
Panas sekali, ozon telah terkorupsi, begitu selalu bisiknya.
Embun itu dengan benar menceritakan tentang sekerat roti dimeja tuan besar, yang selalu merintih semalaman mengenang nasibnya, sebab basi tak tersentuh. Tetapi sekarung jagung disudut desa yang jauh barangkali lebih berarti didalam perut para petani.
Ainadilah…
Disini embun pun dapat bercerita tentang sekelompok bocah di tepi Aceh atau di sudut-sudut Jogja, bahkan di tengah-tengah lumpur panas Sidoarjo
Mereka bertanya, kemana ibu kami?
Kau tahu Ainadilah,
embun itu menjawab atas nama bumi yang seketika menjadi yatim piatu, bahwa ibu mereka telah menjelma menjadi kembang-kembang ungu yang menyalip awan-awan kelabu.
Ainadilah…
Dimanapun kau, tersenyumlah…
Sebab disini aku menyaksikan embun itu tak memiliki usia yang panjang.
Lintang Sugianto
Subscribe to:
Posts (Atom)